Falsafah Hidup Orang Minangkabau

Sosiofilosofi orang minang kabau terkenal dengan ungkapan : “adat basandi syara’, syara’ basandi kitabullah, syara’ mangato,  adat mamakai”. Berarti suruhan pengalaman adat adalah suruhan syarak, dengan kata lain adat minangkabau tidak boleh bertentangan dengan ajaran syarak (islam). Adat minangkabau (budaya/kultur minangkabau) adalah sebagai pengalaman ajaran islam. Karena itu peranan syarak menjiwai dan mewarnai pengalaman adat minangkabau.

Sebelum islam menginjak bumi minangkabau, orang minagkabau telah menetapkan dan berpegang kepada pandangan hidup : alam takambang jadi guru, berarti ini merupakan ayat – ayat allah swt dengan segala hukum dan ketentuannya dengan kata lain disebut sunnatullah. Al-quran sebagai wahyu dan sumber ajaran islam sangat menghargai dan menetapkan serta mengupas hukum, gerak alam/ketentuan-ketentuan alam. Disamping alamtakambang jadi guru, ada ungkapan tentang tauhid/ keesaan tuhan bahwa kebenaran itu hanya satu seperti ungkapan :

kamanakan barajo kamamak,
mamak barajo kapanghulu,
panghulu barajo kamufakat,
mufakat barajo kanan bana,
nan bana badiri sandirinyo”.

Dengan ungkapan ini paham orang minagkabau sebelum islam datang telah berprinsip keesaan (tauhid) karena masuknya islam ke minangkabau mudah diterima oleh masyarakat minangkabau dan secara cepat bersenyawa dengan adat (kultur) minangkabau. Sedangkan agama hindu/budha tak bisa bertahan lama diminangkabau karena :

  1. Agama hindu/budha bersifat aristokrat/feodalistik, sedangkan orang minangkabau egaliter/demokrasi.
  2. Agama hindu/budha bersifat khayali, sedangkan orang minangkabau bersifat alami (konkrit/nyata).
  3. Agama hindu/budha bersifat polytheisme, sedangkan orang minangkabau bersifat monotheisme.

Sumber ilmu dan aturan hidup

Sumber ilmu pengetahuan dan aturan hidup bertolak dari tiga sumber :

  1. Fiman allah dalam kitab suci al-qur’an, sifatnya obyektif.
  2. Ketentuan/hukum alam (alam takambang jadi guru) sifatnya obyektif.
  3. Filasafat sebagai puncak dari budaya, manusia/akal bersifat conditioning atau subyektif.

Ketiga bentuk ini telah membentuk kepribadian serta serta akhlak dan moral dengan bersenyawanya adat nan syarak bagi orang mingangkabau yang lahir dalam bentuk : budi, akal, ilmu, serta patut jo mungkin dalam kajian syariat, tharikat, hakikat dan makhrifat. Karena itu adat minangkabau terbagi empat yaitu :

  1. Adat ialah

Merupakan hasil kesepakatan penghulu penghulu dalam satu suku/nagari, lain padang lain belalang, lain lubuk lain ikannya. Jikalau kesepakatan tidak sesuai menurut syarak ditinjau kembali, gawa manyambah, salah maisi adat dipakai, limbago dituang karano kato allah taala didalam al-qur’an, apo katonyo : Ayat

  1. Nan diadatkan ialah

Merupakan warisan budaya dari perumus adat minagkabau yaitu dt. Katumanggungan dan dt.perpatih nan sabatang, mengenai aturan hidup bermasyarakat orang minangkabau secara umum nan berlaku di luhak nan tigo yaitu : mamakai baso jo basi, mamandang ereng jo gendeng, manimbang mudaraik jo manfaatnyo, mangarati barek jo ringan karano kato allah taala didalam al-qur’an, apo katonyo : Ayat

  1. Istiadat adalah

Kebiasaan umum yang berasal dari tiru maniru dan tidak diberi kekuatan pengikat oleh penghulu – penghulu selama tidak bertentangan dengan adat nan sabana adat yaitu urang berhak manarimo haknyo seperti ; alam diperintah rajo/mamak, agamo diperintah malin, nagari diperintah malin, nagari diperintah penghulu, kampuang diperintah tuo, rumah diperintah suami, kabau diperintah urang sagubalo, karena kata allah taala didalam al-qur’an, apo katonyo : Ayat

dimana tampak patuah ialah kepada urang nan selalu taat kepada allah rosulullah mengingatkan.

Artinya :” tak wajib taat kepada orang yang tidak patuh kepada allah”

  1. Nan sabana adat ialah

Nilai dasar dari kitabullah (agama) dan hukum alam (sunatullah), diasak tak layu, dibubuik indak mati, adat api membakar, adat air membasah, sedangkan kitabullah nan buliah ditunjuakkan pasalnyo, matan dan maknanyo, hadist dan dalilnya, qias da ijmaknyo, artinyo mufakat segala ulama karena kato allah taala didalam al-qur’an, apo katonyo : Ayat

[18] maksudnya ialah kitab – kitab yang diturunkan sebelum al-qur’an