Fungsi Surau dan Masjid

Surau

Setiap nagari di minangkabau paling sedikit harus didiami oleh 4 (empat) suku. Setiap suku dibangun sebuah surau. Berkembangnya surau tergantung kepada berkembangnya suku yang mendiami suatu nagari serta peranan malin/labai sebagai ulama dalam suku.

Sebelum agama islam masuk ke minangkabau surau sudah ada dengan fungsi sebagai berikut:

  1. Tempat menginap / asrama bagi anak kemenakan laki-laki, orang yang membujang dan yang telah tua dan baganyi.
  2. Tempat mufakat / musyawarah suku dan bersua-sua.
  3. Tempat mensosialisasikan adat, budi pekerti dan sopan santun.

Setelah islam bersenyawa dengan adat minangkabau lahirlah sumpah setia bukik marapalam, maka fungsi surau disesuaikan dengan tuntutan agama islam sebagai landasan (sandi) adat dengan tambahan sebagai fungsi surau disamping poin diatas ialah: Sebagai tempat mempelajari agama islam dan beribadah (belajar mengaji al-qur’an, sembahyang dan syariat islam).

Jikalau sebelum islam masuk ke minangkabau suku dipimpin oleh:

  1. Seorang penghulu
  2. Seorang manti (cadiak pandai / orang tua-tua)
  3. Seorang dubalang (orang muda) pagar suku

Maka setelah agama islam bersenyawa dengan adat maka disempurnakan pimpinan suku menjadi 4 orang yang disebut 4 (empat) jinih yaitu:

  1. Penghulu (datuk) sebagai kepala suku yang berfungsi, kayu gadang di tangah koto, urek tampek baselo, batang tampek basanda, dahan tampek bagantuang, daun tampek balinduang kapanasan, tampek bataduah kahujanan, ka pai tampek batanyo, ka pulang tampek babarito. Penghulu menjadi lambang kebenaran budi dan akhlak, dia dapat dijadikan contoh bagi kaumnya, seorang penghulu adalah pendamai, menghindarkan diri dari konflik seperti kata agadium adat : “kok manabang indak marabahkan, kok mamancuang indak mamutuih, kok mamakan indak malabiahan, bajalan di ateh undang jo syarak”
  2. Malin / labai sebagai pembantu penghulu berfungsi menjadi suluah bendang dalam suku, palito nan tak padam, camin nan tak kabua nan tahu halal jo haram, sunnat jo fardhu sarato syah jo batha yang berlangsung di bidang syarak dan adat nan mamimpin surau kaum/suku. Malin/labai orang yang tahu tentang undang-undang adat dan hukum islam menjadi hukum norma positif dalam masyarakat yang selalu berdampingan dengan norma-norma akidah islam yang berlaku.
  3. Manti (cadiak pandai) berfungsi membantu atau memberi nasehat kepada penghulu karena dia bertugas menjadi urang nan arif bijaksana, mangarati barek jo ringan, manimbang mudaraik jo manfaat, tahu ereng jo gendeng, lubuk aia lautan budi, tahu di duri nan ka mancucuak, tahu di rantiang nan kamahimpok. Fungsi manti, dia mampu memotifasi anak kemenakan, lambang katanya adalah mufakat mengetahui syariat islam  dan ketentuan adat yang menguasai ilmu dan teknologi, manti seorang komunikator sosial, dia adalah penggerak pembangunan.
  4. Dubalang (urang mudo) berfungsi membantu penghulu bertugas : urang nan capek kaki ringan tangan, pamaga suku jo nagari, kalu tak pandai manjago urang mudo, mungkin paga makan nagari, kalau tak pandai manjago urang mudo mungkin paga makan nagari. Dubalang yang mengetahui mungkin jo patut, mengetahui pikiran – pikiran rasional dan empiris profesional yang dapat mengajak dia mendorong anak kemenakan untuk melaksanakan syariat islam dan ketentuan adat.

Untuk berperannya fungsi dan peranan 4 (empat) jinih diperlukan langkah – langkah sebagai berikut :

  1. Reposisi lembaga urang ampek jinih sebagai institusi yang ada pada setiap suku dan nagari melalui perda kabupaten dan kota dimana wali nagari dicalonkan dari unsur penghulu atau ampek jinih melalui seleksi oleh kan dan dipilih oleh anak kemenakan, sehingga suku berfungsi sebagai kelompok kekerabatan yang berkompetensi dalam membangun dan memajukan nagari.
  2. Memfungsikan tanah ulayat melalui suku lewat ampek jinih sesuai dengan tatanan adat sebagai milik kolektif.
  3. Dilakukan revitalisasi terhadap ampek jinih tentang pengetahuan adat dan syarak, serta syarat memangku ampek jinih.
  4. Kalau terjadi perselisihan dan pelanggaran adat serta sengketa sako dengan pusako sebelum dibawa kelembaga hukum diselesaikan oleh ninik mamak (ampek jinih) dan kan (kerapatan adat nagari).
  5. Mengalihkan sebagian fungsi surau kesekolah/madrasah terutama baca tulis al-qur’an, pelajaran shalat, budi pekerti (budaya minangkabau).

Masjid

Setelah islam bersenyawa dengan adat yang diimbangkan dengan balai (balairung) kini disempurnakan dengan adanya masjid yang menghimpun anak nagari yang berfungsi sebagai berikut :

  1. Tempat melaksanakan ibadah, dan shalat jum’at bagi anak nagari
  2. Tempat mensosialisasikan adat nan syarak bagi anak nagari (masyarakat)
  3. Tempat mengenal dan merasakan hidup bernagari dengan saling mengenal komponen masyarakat atau suku – suku yang ada dalam nagari
  4. Tempat peringatan hari besar islam dan pengajian bagi anak nagari

sedang pengajian dan ibadah sehari – hari dilakukan di         masing – masing surau suku, baik shalat berjama’ah,      tarawih, belajar mengaji dan sembahyang, belajar silat dan   budi pekerti, atau adat sopan santun. Jikalau suku ada          perangkat kepemimpinan ampek jinih, maka dimasjid ada pula         kepemimpinan jinih nan ampek yaitu :

  1. Imam
  2. Khatib
  3. Qadhi
  4. Bilal