H Bustamam, Pengusaha Sukses dari Lubuk Jantan

Anak orang kaya mudah jadi pengusaha. Pernyataan ini ternyata tidak berlaku bagi sebagian orang yang justru memulai usaha dengan modal minim atau bahkan tanpa modal sepeser pun. Bapak H. Bustamam mampu membuktikan bahwa menjadi pengusaha sukses bukan hanya hak “anak orang kaya”, tetapi hak setiap orang yang mau bekerja keras dan memiliki niat baik.

H. Bustaman adalah pemilik Rumah Makan Padang Sederhana.  Kita mudah menemukan rumah makan ini karena saat ini sudah ada 100 cabang di seluruh Indonesia. Tak disangka, Bustaman mempunyai lika-liku kehidupan yang mengharukan. Dulu ia adalah tukang cuci piring di restoran, lalu beralih menjadi penjual koran di jalanan. Lantaran tak ada biaya, ia hanya bisa mengenyam pendidikan di Sekolah Rakyat (SR) atau setingkat SD kelas 2.

Pria kelahiran Lubuk Jantan, Lintau Buo, Kabupaten Tanah Datar ini ditinggal kedua orang tua meninggal saat masih kecil. Jadilah hidupnya luntang-lantung. Tahun 1970-an ia nekat ke Jakarta, membuka kios rokok emperan di Jalan Matraman. Kiosnya menumpang di depan ruang praktik seorang dokter. Lalu, ia pindah ke daerah Pejompongan, jualan nasi kaki lima. Ia juga sempat digusur oleh petugas Kamtib. Namun, berkat kerja kerasnya, ia bisa sukses seperti sekarang.

Kehidupan

Semasa kecil Bustaman hidup susah. Bermacam-macam pekerjaan telah ia jalani, dari menjual pisang goreng hingga sebagai kernet. Setelah cukup umur, ia pergi merantau ke Jakarta. Disini ia mengawali kariernya sebagai pedagang asongan, dan pada tahun 1972 membuka Warung Makan Padang di kawasan Bendungan Hilir, Jakarta.[2]

Dalam mengelola restoran, Bustaman selalu menyesuaikannya dengan lidah orang kebanyakan. Sehingga ia mengurangi rasa pedas dalam masakannya. Ia juga memiliki hidangan khusus, yakni Ayam Pop yang telah dikenal luas. Pada tahun 1997, Bustaman mematenkan merek dagang “Sederhana” ke Direktorat Jenderal Hak atas Kekayaan Intelektual, dan mewaralabakan merek tersebut. Sejak itu usahanya terus berkembang.

Dia sempat bersengkata dengan Djamilus Djamil, salah seorang kerabatnya yang juga menggunakan merek dagang “Sederhana” pada restoran yang dikelolanya. Namun akhirnya mereka berdamai, dan Djamilus diwajibkan untuk menambahkan merek dagangnya menjadi “Sederhana Bintaro”.[3] Untuk melindungi merek Sederhana, pada tahun 2000 ia membentuk perusahaan berbadan hukum yang diberi nama PT. Sederhana Citra Mandiri. Saat ini lebih dari 100 restoran miliknya tersebar di berbagai kota di Indonesia dan Malaysia. Kini Restoran Sederhana telah membuka outletnya di setiap provinsi, kecuali Provinsi Papua.

Kisah sukses H. Bustamam dapat dilihat di video berikut :

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *