Tatanan Masyarakat Minangkabau

Tatanan Masyarakat Minangkabau

  1. Sistem matrilinial

Masyarakat minangkabau bertolak dari sistem matrilinial (keibuan). Sebagai konsekwensi dalam masyarak matrilinial adanya suku yang tumbuh mengikuti garis ibu. Harta seperti rumah gadang, sawah – ladang, hutan, tanah milik kolektif, seperti hindu dan paruik.

Dengan datangnya agama islam milik kolektif ini tetap dipertahankan karena tidak bertentangan dengan prinsip islam. Akhirnya pusaka diminangkabau menjadi dua yaitu :

  1. Pusako tinggi berupa milik kolektif (suku, hindu dan paruik)
  2. Pusaka rendah berupa milik keluarga (suami – istri) yang berlaku hukum mawaris.

Harta pusaka tinggi di kelola oleh mamak dan dan ditunggui serta dimanfaatkan kegunaannya oleh ibu, karena rumah tangga diminangkabau diatur oleh pihak ibu beserta mamak (saudara ibu).

Suami datang kerumah istri sebagai urang sumando. Karena itu dirumah tangga diminangkabau yang menguasai rumah bukan suami tapi istri (sebagai ibu) dan rumah mamak (sebagai saudara ibu) sebaliknya seorang ayah juga akan berfungsi sebagai mamak dirumah ibunya. Orang sumando dirumah istrinya bagaikan abu diatas tunggua.

  1. sistem kekerabatan

Ibu adalah lambang kasih sayang dan perlindungan sebagai anak dia akan lebih dekat dengan ibu dan mamaknya sehari – hari beserta saudara  se rumah dan sesuku. Orang laki – laki dalam hidup matrilinial tidak tidur dirumah orang tuanya/ibunya, karena dia dalam kesehariannya harus bergaul dengan (mamak, saudara, dunsanak, ipa, besan, bako dan lain – lainnya). Karena itu harus ada lembaga yang berada diluar rumah (ibu) yang dibangun oleh suku yang disebut surau.

Disinilah mereka (disurau) belajar dan memahami siapa dirinya, fungsi, peranan ibu dan mamak serta bapaknya, belajar mengenal hidup dan hubungan dengan sukunya, mengenal ipar besan, bako-baki, berkampung bernagari, tahu diadat sopan santun, tahu silsilah dan asal serta semanda menyemanda. Pendek kata melalui surau seseorang mensosialisasikan dirinya sebagai seorang putra minangkabau.

  1. Rumah tangga diminangkabau

Rumah tangga diminangkabau tumbuh dan berkembang dari dan membangun kekerabatan. Orang minangkabau tidak membolehkan terjadinya perkawinan hubungan tali darah terlalu dekat, karena itulah makna perkawinan dilakukan antara suku, nagari dan luhak, karena setiap perkawinan akan menghubungkan :

  1. Antara suku dan nagari
  2. Antara kampuang dan luhak

Sebab – sebab perkawinan akan mewujudkan :

  1. Anak kemanakan
  2. Ayah, ibu dan mertua
  3. Bako – baki, anak pisang
  4. Ipar bisan
  5. Semanda – menyemanda
  6. Sanak saudara (adik, kakak, anak pisang)
  7. Saudara sepesukuan (dunsanak)
  8. Handai tolan, karib kerabat
  9. Bakampuang, banagari dan lain – lain

Fungsi ayah dan mamak bertugas sesuai dengan mamang :

“anak dipangku jo usaho, kamanakan dibimbiang jo pusako, kaluak paku kacang balimbiang, tampuruang lenggang – lenggangkan, dibaok nak urang ka saruaso, anak dipangku kamanakan dibimbiang, orang kampuang dipatenggangkan jago nagari jan binaso”.